BUDIDAYA PENGGEMUKAN DOMBA POTONG

PROSPEK USAHA

Usaha penggemukan domba merupakan usaha peternakan yang penerapannya cukup sederhana namun menjanjikan. Modal yang dibutuhkan tidak begitu besar setiap orang dapat melakukan usaha ini, perputaran modal kerja pun relatif cepat. Permintaan terhadap domba di dalam negeri cukup tinggi baik itu untuk konsumsi maupun untuk keperluan Aqikah dan akan menjadi sangat tinggi menjelang hari raya haji. Permintaan di luar negeri pun terus meningkat terutama untuk Negara-negara di Asia, Eropa dan Amerika.

Usaha penggemukan domba biasanya dilakukan di pedesaan, karena pakan utama dari domba adalah rumput, daun-daunan (hijauan) dan limbah pertanian yang umumnya terdapat di pedesaan.  Namun  seiring dengan perkembangan teknologi di bidang pakan ternak seperti complete feed sebuah teknologi pengembangan peternakan domba dan kambing tanpa rumput yang ditemukan oleh Ir. Didik Eko Wahyono yang juga merupakan pengurus DPD HPDKI propinsi Jawa Timur, dengan menggunakan complete feed ternak domba dan kambing tidak perlu diberi hijauan lagi. Ditemukan teknologi ini tidak menutup kemungkinan usaha penggemukan domba dapat dikembangkan di kota.

PROPIL PENGUSAHA

Menggemukkan Domba Dengan “Tawakkal” Usaha penggemukan domba milik H Bunyamin selalu diminati konsumen. Kuncinya, domba harus berpenampilan sehat dan bersih.
Desa Cimande, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, kini tidak saja dikenal sebagai tempat dukun patah tulang dan perguruan silat, tapi juga sentra peternakan domba. Predikat sebagai daerah peternakan domba itu muncul setelah Haji Bunyamin mendirikan “Tawakkal Farm”, sebuah usaha penggemukan domba sejak 1993.
Begitu memasuki mulut desa Cimande, setiap pengunjung atau tamu dengan mudah mencari sang peternak, karena nama Haji Bunyamin sudah begitu dikenal oleh tukang ojek yang mangkal di sana. Peternakan yang dirintis oleh Haji Bunyamin mulai dari usaha kecil-jecilan itu, kini telah berkembang cukup pesat. Di sana sekarang terdapat 1.200 ekor domba, yang ditempatkan dalam lima kandang kayu. Semua kandang terawat bersih, bahkan tidak tercium bau domba.

Bunyamin biasa menerima para tamu di sebuah kamar sekaligus tempatnya bekerja, yang berada persis di depan kandang domba. Para tamu yang berkunjung ke sana datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa jurusan peternakan Universitas Padjajaran dan Institut Pertanian Bogor (IPB) misalnya, sering kali menjadikan peternakan Bunyamin ini sebagai tempat magang. Begitu pula para karyawan yang memasuki masa pensiun, seperti karyawan Bank Indonesia dan BRI, sengaja datang untuk mempelajari cara beternak domba sebagai persiapan usaha bila masa pensiun tiba.

“Tapi saya sendiri tidak punya ilmunya. Saya hanya tukang angon,“ kata Bunyamin merendah. Domba-domba hasil penggemukan Bunyamin memang sudah dikenal, bukan saja di Bogor tapi hingga ke wilayah Tangerang dan Jakarta. Biasanya domba-domba itu masuk ke restoran untuk sop atau sate, dan juga untuk kurban pada hari raya Idul Adha.

Untuk restoran di kawasan Ciawi hingga Puncak saja, terdapat 32 rumah makan yang menyediakan sop dan sate kambing. Menurut survei yang dilakukan Haji Kadir, seorang pemilik rumah makan khusus menyediakan sop dan sate di Cisarua, untuk kebutuhan seluruh rumah makan di kawasan itu dibutuhkan 560 ekor domba setiap hari atau 560 ekor dalam seminggu. Rumah makan milik Haji Kadir saja membutuhkan delapan ekor domba per hari, dan kalau malam minggu bisa sampai 14 ekor.

“Untuk memebuhi kebutuhan rumah makan dari pasar Ciawi sampai Puncak saja saya tidak sanggup. Kesanggupan saya paling hanya dua hari dalam seminggu,”aku Bunyamin. Harga per kilo domba Rp 17.500. Namun, memasuki bulan haji bisa melonjak sampai Rp 25 ribu per kilo. Di tingkat peternak, domba memang dihitung kiloan.

Meski sudah 14 tahun menggeluti usaha penggemukan domba, Bunyamin merasa masih belum pantas disebut sebagai peternak domba yang sukses. Baginya, peternak yang sukses salah satu persayaratannya harus sudah punya lahan sendiri, tempat menanam rumput sebagai makanan utama domba.

Untuk saat ini guna memenuhi kebutuhan pakan domba-dombanya, Bunyamin masih harus mencari rumput ke kawasan lain di sekitar Cimande. Tapi, saat musim kemarau lokasi tempat pengambilan rumput semakin jauh, sehingga harus menambah beban transportasi. Setidaknya, dalam sehari, 120 karung rumput harus disediakan untuk semua dombanya, yang diberi makan sebanyak dua kali, pagi dan sore.

Tidak heran bila domba-domba milik Bunyamin tampak sehat. Bulu-bulu dombanya tidak dibiarkan tumbuh tak terawat. Ketika domba dari warga yang dibelinya masuk ke peternakan, harus dicukur biar bersih. Kukunya dipotong secara berkala. Obat cacing juga rutin diberikan untuk membersihkan isi perutnya. Sebab, menurut pensiunan pegawai negeri sipil di Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor ini, hampir semua kambing yang dipelihara warga pasti terkena penyakit cacing.

Domba yang sehat dan terawat adalah daya tarik tersendiri bagi konsumen. “Mereka akan merasa puas dengan domba seperti ini, “ kata lelaki kelahiran Cianjur, Jawa Barat, 2 Mei 1956 ini. Apalagi bila melihat domba Garut atau sering disebut domba tangkas yang khusus untuk domba adu. Harga bibitnya saja bisa mencapai Rp 3 juta. Di peternakan milik Bunyamin, harga domba Garut ditentukan oleh “tongkrongannya”. Artinya, kalau penampilannya bagus dan bersih harga seekor domba Garut bisa mencapai Rp 15 juta.

Keberhasilan Bunyamin menggeluti usaha penggemukan domba, bermula dari hobi memelihara domba. Ketika itu pada 1990, Bunyamin memelihara enam ekor domba di belakang rumahnya. Ketika lebaran haji tiba, dia memotong tiga ekor dan menjual tiga ekor lainnya. Rupanya, penjualan tiga ekor ini memberi keuntungan lumayan, sehingga terpikir olehnya untuk meneruskan usaha jual beli domba.

Akhirnya, pada 1993, Bunyamin mendirikan Tawakkal Farm. Untuk tempat pemeliharaannya Bunyamin membeli lahan secara mencicil, tak jauh dari rumahnya yang kini dijadikan kandang sekaligus tempat tinggal 20 orang karyawannya.

Namun di tengah keberhasilan itu, Bunyamin sebenarnya memiliki trauma dalam usaha peternakan. Kisahnya terjadi antara tahun 1982 hingga1987, ayah seorang putera membuka usaha ayam potong. Jumlah ayam potongnya saat itu mencapai 110 ribu ekor. Hingga 1985 usahanya itu terbilang sukses, sehingga Bunyamin berhasil membeli dua truk dan sebuah kendaraan pick-up untuk keperluan angkutan ternak dan lainnya.

Tapi, tatkala memasuki 1986, harga pakan ayam mulai naik, sementara harga jual ayam potong di pasar setiap kali panen justeru anjlok. Akibatnya, biaya produksi tidak tertutupi oleh penghasilan. Pada saat yang sama dia juga harus bersaing dengan pengusaha ayam potong kelas konglomerat yang memiliki peralatan dan modal kuat. “Akhirnya saya bangkrut,” cerita Bunyamin mengenai masa lalunya itu. Dua buah truk dan seluruh angkutan, serta semua peralatan peternakan ludes dijual.Bunyamin menyebut kejatuhan atau kebangkrutan itu dengan sebutan “dipatok ayam”.

Masih beruntung saat itu Bunyamin tidak punya utang. Sementara ada kawan-kawannya sesama peternak ayam potong lebih tragis lagi. Menurut cerita Bunyamin, ada peternak ayam potong mati mendadak karena kaget, dan ada pula yang harus menjual rumah tinggalnya, dan pindah ke gubuk yang sebelumnya digunakan untuk beternak ayam.

Pengalaman menyakitkan itu membuat Bunyamin makin awas dalam memilih jenis ternak untuk usaha. Dia pun kemudian memilih usaha penggemukan domba. Karena, dia yakin, domba akan memberinya keberuntungan. “Sebab harganya stabil,” katanya optimistis. Mudah-mudahan.
http://tanimerdeka.com

TIPS KEBERHASILAN USAHA

  1. Berikut adalah beberapa saran dalam usaha penggemukan domba
  • Umur domba belum berumur satu tahun
    • Pada usia itu pertumbuhan domba sedang mencapai fase pertumbuhan cepat, dimana pakan akan dikonversikan menjadi daging.
    • Pada usia lebih dari satu tahun, pakan akan mulai dikonversikan menjadi lemak, yang tidak diharapkan oleh peternak.
    • Domba yang digemukkan adalah domba jantan.

Domba jantan mempunyai pertambahan bobot badan yang lebih tinggi daripada domba betina karena hormon testosteron yang dimilikinya.

  • Kandang yang digunakan kandang dengan tipe panggung karena kotoran lebih mudah dibersihkan.
    • Kotoran tidak boleh menumpuk di bawah kandang karena kandungan amonia dapat menggangu pernapasan domba dan dapat menyebabkan penyakit paru-paru.
    • Domba yang terserang penyakit paru-paru bobot badannya tidak dapat naik, bahkan cenderung menurun dan dapat menyebabkan kematian.
    • Kotoran yang terkumpul tidak perlu dibuang karena dapat diolah lebih lanjut.

Pengolahan kotoran dapat dilakukan dengan dua cara:

  • sistem terbuka: kotoran dibiarkan sekitar tiga bulan dalam lubang penampung yang tersedia . Cara ini cukup murah dan mudah. Kotoran yang telah tertimbun dapat langsung digunakan sebagai pupuk organik
  • sistem  tertutup. kotoran ditimbun dalam suatu lubang yang diberi atap dan terhindar dari genangan air.

Pupuk organik ini apabila dijual dapat menjadi penghasilan tambahan bagi peternak tersebut.

  • Pakan yang diberikan berupa konsentrat dan rumput.
    • Konsentrat merupakan makanan yang mengandung serat kasar rendah tetapi kandungan zat-zat makanan yang dapat dicerna sebagai sumber utama zat makanan seperti karbohidrat, lemak dan protein tinggi. Apabila konsentrat untuk domba sulit didapatkan, maka dapat diganti dengan konsentrat untuk sapi. Namun apabila konsentrat untuk sapi masih sulit didapatkan, peternak dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan sekitar, semisal dengan menggunakan ampas tahu.
    • Rumput yang digunakan dapat berupa rumput lapang maupun rumput gajah. Namun apabila menggunakan rumput gajah, rumput perlu dipotong kecil-kecil agar domba lebih mudah dalam mengonsumsi.

Pemberian pakan sebaiknya secara teratur yaitu pagi, siang, dan sore. Pemberian pakan secara sekaligus dapat menyebabkan domba kurang nafsu makan, dan pakan juga lebih mudah busuk. Selain diberi makan, domba juga perlu minum. Pemberian air minum tidak perlu dibatasi atau ad libitum.

  • Domba hasil penggemukan dapat dijual kepada:
    • rumah jagal
    • pembeli perorangan
    • rumah-rumah makan
    • pedagang pengumpul.

Apabila domba digemukkan beberapa bulan menjelang hari raya kurban, keuntungan yang didapatkan akan semakin besar sebab saat hari raya kurban permintaan domba melonjak sehingga harga domba tinggi.

FAKTOR KRITIS PADA KEBERHASILAN USAHA

Faktor-faktor kritis yang harus diperhatikan dalam usaha pengemukan domba diantaranya adalah:

Pencarian bibit yang berkualitas

Kesalahan dalam memilih bibit domba akan mengganggu proses penggemukan bahkan akan terjadi kegagalan usaha. oleh karena itu perlu perhatian dan kehati-hatian dalam memperoleh bibit domba (bakalan) yang berkualitas

Penyediaan pakan (baik konsentrat, maupun hijauan)

Pakan dalam usaha penggemukan domba merupakan hal yang paling pokok, untuk itu ketersedian pakan baik konsentrat, maupun hijauan (daun-daunan) harus benar-benar diperhatikan

Pengelolaan yang tidak fokus (tidak sekedar sambilan)

Usaha penggemukan domba memerlukan perhatian yang serius, jika usaha ini hanya sekedar sambilan kemungkinan besar usaha ini akan menghadapi kegagalan

Pengadministrasian proses penggemukan

Usaha penggemukan biaya berkisar antara 2 – 6 bulan, lemahnya pengadministrasian untuk menjual domba dan membeli bibit dapat merugikan usaha ini.

TEKNIS MELAKUKAN USAHA

Usaha penggemukan domba dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
Untuk memperoleh hasil yang diharapkan pemilihan domba bakalan (bibit) perlu dilakukan dengan selektif.

1. Pemilihan Domba bakalan (bibit)    

  1. Bibit domba baru berusia pasca sapih (6-8 bulan) atau kurang dari satu tahun.          Domba yang umurnya 12 bulan atau sedang tanggal gigi, biasanya mengaIami masa stress dan bobotnya juga turun, sehingga menggangu proses penggemukan.
    Ciri-ciri domba yang usianya kurang dari 1 tahun yaitu: giginya masih rapat dan belum tanggal, dan berat rata-ratanya 20 kg.
  2. Bibit harus domba jantan       – Domba jantan pertumbuhannya lebih cepat dari pada yang betina.       – Domba jantan yang akan dijadikan bibit harus yang tidak bertanduk dan sifatnya tenang, karena         domba yang bertanduk mempunyai naluri berkelahi yang tinggi dan pertumbuhannya cenderung lebih lambat. Pada akhir masa penggemukan, berat domba bertanduk bisa berbeda 1-2 kg lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak bertanduk: Kerugian lain, domba bertanduk sering merusak kandang.
  3.  Bibit domba sehat dan tidak cacat

Domba yang sehat dan tidak cacat memiliki ciri

ü  penampilan fisik yang baik

ü  bulunya tampak seperti basah (kelimis)

ü  kakinya tegak dan besar

ü  moncongnya tumpul.

2. Kandang    

Kandang yang digunakan dapat menggunakan system panggung dan sistem lantai, namun system panggung dapat memberikan keuntung lebih yaitu kotoran domba tidak perlu dibersihkan, karena langsung jatuh ke dalam penampungan yang diletakan di bawah kandang. Kotoran ini dapat menjadi penghasilan tambahan setelah menjadi pupuk (tidom).

a)      Panjang kandang dibuat 1m, lebar 60 cm dan tinggi 60 cm. Satu lokasi ( satu atap) terdiri dari 2 baris       kandang yang tidak saling berhadapan tiap barisnya. Satu kandang dihuni satu domba.

b)      Untuk menambah napsu makan domba, setiap wadah pakan sebaiknya digunakan untuk 2 domba.       Wadah pakan itu diletakan disisi luar dan tidak saling berhadapan dengan barisan kandang lainnya.       Wadah pakan itu bisa dibuat dari bambu atau bahan lain.

c)      Atap kandang dibuat dari alang-alang atau rumbia dengan kemiringan 45°. Penggunaan atap       rumbia lebih baik dibandingkan dengan atap seng atau asbes karena pada siang hari kandang       tidak terlalu panas dan pada malam harinya menjadi hangat. Penggunaan atap seng sering     . menyebabkan domba stress, karena kalau siang terlalu panas dan kalau malam terlalu dingin

3        PEMBERIAN PAKAN

a)      Pemberian pakan harus diatur sedemikian rupa sehingga domba tidak kelaparan atau kekenyangan. Pengaturan pakan domba dapat dilakukan sesuai dengan tahap-tahap berikut:     Minggu pertama, yaitu pada saat domba datang beri konsentrat 1/5-2 ons per hari/ekor domba       tambahkan 7 ons ampas tahu dan 3 kg rumput sampai, berikan pada waktu-waktu berikut:       – Jam 05.00 beri makan ampas tahu dan konsentrat       – Jam 09.30 beri makan rumput       – Jam 15.00 beri makan rumput kembali dalam kadar/jumlah yang sama       – Beri air minum setiapkali domba habis makan rumput       Pada fase ini, 2-3 hari domba akan terlihat kurang napsu makan, namun hal itu dikarenakan domba belum terbiasa, hari berikutnya pakan yng diberikan akan dimakan sampai habis.

b)      Minggu kedua, tambah dosis konsentrat menjadi 2/5-3 ons. Pakan dan waktu pemberiannya tetap

c)      Minggu ketiga, tambah dosis konsentrat menjadi 4 ons. Pakan dan waktu pemberiannya tetap

d)     Minggu berikutnya sampai masa penggemukkan berakhir (panen), tambah dosis konsentrat       menjadi 5 ons. Pakan dan waktu pemberiannya tetap.

4     MENJAGA KESEHATAN

a)      Sejak awal kedatangan domba perlu dijaga kesehatannya dengan melakukan pemeliharaan yang baik, pemeliharaan domba agar terjaga kesehatannya dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:     Menghindarkan lingkungan dari hal-hal yang dapat menyebabkan domba stress

b)      Lakukan pengobatan pencegahan pada saat bibit baru datang sebelum dimasukkan kedalam kandang

c)       Cukur bulu domba yang baru datang agar bibit penyakit, kutu, dan parasit lain bisa segera       terbasmi. Dengan pencukuran ini, hasil dari penggemukanpun langsung terlihat mahal

d)      Mandikan domba setelah dicukur, sampai semua kotoran yang melekat hilang

e)      Berikan suntikan antibiotik dan obat cacing

f)       Terakhir, berikan obat anti stress untuk mencegah stress

5         PERIODE (WAKTU) PEMELIHARAAN

Penggemukan domba biasa dilakukan pada domba selesai sapih (pasca sapih) atau pada saat usia domba kurang dari satu tahun maka penggemukan yang efektif adalah selama 45 hari.  Jika penggemukan dilakukan sampai masa tanggal gigi maka hal ini justru akan menurunkan bobot badan domba.  Oleh karena diperlukan perhitungan yang teliti sebelum melakukan pembelian bibit.
Hal pertama yang harus menjadi pertimbangan adalah kapan masa panen akan dilakukan? Misalnya menjelang hari raya idul kurban, maka pembelian bibit dilakukan 45 hari sebelum perayaan idul kurban tersebut.

ANALISA USAHA

Asumsi Usaha penggemukan domba

  • penggemukan per unit kandang berisi 20 ekor
  • masa penggemukan 60 hari (1 periode)
  • berat awal rata-rata 20 kg/ekor
  • berat akhir pemeliharaan rata-rata 35 kg/ekor dengan prosentase karkas 45% harga karkas (disembelih) Rp. 40.000,-,
  • harga jual hasil penggemukan Rp. 500.000,-/ekor
  • harga bibit/bakalan Rp. 250.000/ekor
  • umur ekonomis kandang dan peralatan selama 20 periode
  • harga kotoran (pupuk) bernilai Rp. 300.000/ periode pemeliharaan

1. BIAYA

Uraian

Jumlah

A. Biaya Investasi

1

Kandang

Rp. 4.500.000

2

Peralatan

Rp. 1.000.000

3

Sewa Lahan

Rp. 1.500.000

Total Investasi

Rp. 7.000.000

B. Biaya Tetap

1

Penyusutan kandang (Rp.4.500.000/20)

Rp.    225.000

2

Penyusutan Peralatan (Rp.1.000.000/20)

Rp.    50.000

Total Biaya Tetap

Rp. 275.000

C. Biaya Variabel

1

Biaya bibit/bakalan (30 ekor x Rp.225.000)

Rp.  6.750.000

2

Hijauan pakan ternak (60 hari x 30 ekor x 4kg x Rp.100)

Rp.     720.000

3

Pakan konsentrat (60 hari x 30ekor x 0,250kg x Rp. 700.000)

Rp.  1575000000

4

Obat-obatan (30 ekor x Rp.5.000,-)

Rp.     150.000

5

Upah Tenaga Kerja (1 orang x Rp. 1.500.000)

Rp.  1.500.000

6

Listrik

Rp.     200.000

7

Air

Rp.     300.000

8

Transport

Rp.     500.000

Total Biaya Variabel

Rp.11.870.000

D. Biaya Total (biaya tetap + biaya variable)

Rp.12.145.000

E. Modal Usaha (biaya investasi + biaya total)

Rp.19.145.000

2. PENERIMAAN

No

Uraian

Jumlah

1 30 ekor x Rp. 500.000

Rp. 15.000.000

2 Kotoran (pupuk)

Rp.      300.000

Total

Rp. 15.300.000

3. ANALISA LABA-RUGI
Keuntungan = Hasil Penerimaan-Biaya Total (15.300.000-12a.145.000) = Rp. 3.155.000

4. KEUNTUNGAN BILA DIJUAL DALAM BENTUK KARKAS
- Tambahan biaya pemotongan (30 ekor x Rp. 25.000,-)           =Rp.       750.000
- Penerimaan:
a. nilai karkas (30 ekor x 0,45 x 35kg x Rp.40.000)                  = Rp. 18.900.000
b. kulit dan jeroan (30 ekor x Rp. 100.000)                              = Rp.   3.000.000
c. nilai kotoran (pupuk)                                                             = Rp.      300.000

Total                                                                                Rp. 22.200.000
Keuntungan Rp.22.200.000-Rp.750.000-Rp.12.145.000    = Rp.    9.305.000

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s